DEMI SESEORANG,
Shalom, kiranya kita semua hidup dalam damai dan sukacita oleh kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus. Penulis mengucapkan terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk berbagi refleksi melalui laman ini kepada para pengurus.
Penulis pernah berada pada masa sangat menggemari JKT48. Seiring waktu berjalan, kegemaran itu tidak lagi seintens dulu. Namun ada hal yang tetap tinggal, yaitu lagu-lagunya dan beberapa di antaranya masih sering menemani dan menghibur penulis di waktu-waktu tertentu. Salah satu lagu yang cukup sering terdengar dan terus memberi kesan adalah lagu berjudul "Demi Seseorang."
Lagu ini mungkin jarang di luar penggemar dari JKT48 mengetahuinya, namun liriknya menyimpan makna yang dalam. Ada seakan pengakuan mengenai iman yang terletak di dalamnya, tentang Tuhan yang setia memperhatikan umat-Nya, tentang kasih yang adil dan menyeluruh, tanpa terkecuali. Sejak manusia dilahirkan hingga hari ini, kasih Tuhan digambarkan seperti kehangatan sinar matahari yang menyelimuti dengan lembut-hadir setiap hari tanpa pernah lupa untuk ada.
Begini lirik lagu di dua bait pertama itu, "Kutahu bahwa Tuhan selalu senantiasa memperhatikan seluruh umat manusia. Dia dengan adil mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Dari hari saat ku dilahirkan sampai sekarang. Kehangatan yang bagai sinar matahari menyelimuti dengan lembutnya."
Lirik lagu ini kemudian beranjak pada reff lagu yang mengajak kita pada satu pertanyaan yang sangat mendasar: "Demi seseoranglah kita hidup di dunia, apakah sekiranya yang dapat kulakukan?" Pertanyaan ini adalah undangan bagi kita untuk merenungkannya. menyadari bahwa hidup manusia tidak berdiri sendiri. Kita tidak diciptakan untuk berjalan sendirian, apalagi hanya memikirkan diri sendiri.
"Kita tidaklah bisa hidup sendiri saja," demikian lagu ini menegaskan. Kalimat sederhana ini sejalan dengan ajaran Yesus dalam Markus 12:31 (TB):
"Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
Ayat ini menegaskan bahwa kasih kepada sesama bukanlah tambahan dalam hidup orang percaya, melainkan inti dari iman itu sendiri. Ya... Kita manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dan saling menolong satu dengan lainnya.
Saat kesedihan datang, lagu ini menggambarkan kehadiran yang hangat yaitu pandangan mata yang menjaga, punggung yang menopang, kehadiran yang mungkin tidak terlihat tetapi nyata adanya bagi kita manusia. Di sanalah kasih itu diwujudkan.
Dalam terang iman Kristen, hidup "demi seseorang" adalah respons atas kasih Allah yang lebih dahulu kita terima. Seperti yang dituliskan dalam 1 Tesalonika 4:9 (TB):
"Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah."
Artinya, kasih itu tak hanyalah teori belaka, tetapi sesuatu yang sudah Tuhan tanamkan di dalam hati kita.
Kasih yang diajarkan Allah itu kemudian nyata dalam relasi sehari-hari. Hidup "demi seseorang" tidak selalu berarti harus melakukan hal besar. Tapi kita bisa dengan cukup dengan setia hadir, mau mendengar, dan tetap peduli di tengah keterbatasan kita.
Lagu ini juga menyuarakan harapan. Di tengah dunia yang penuh pertikaian dan berita menyedihkan, ada pilihan untuk tetap "bernyanyi" yang bermaksud untuk tetap berharap, tetap menyuarakan kasih, dan tidak menyerah pada keputusasaan. Sebab selama kita masih diberi kesempatan tuk hidup, Tuhan memberi kita kesempatan untuk menjadi berkat, untuk menjadi jawaban bagi seseorang.
Sebagai penutup, firman Tuhan kembali mengingatkan kita dalam Roma 14:7 (TB):
"Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri."
Ayat ini menegaskan bahwa hidup kita memiliki tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dalam setiap relasi, dalam setiap kesempatan untuk mengasihi, Tuhan mengundang kita untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya.
Kiranya melalui renungan ini, kita diingatkan kembali bahwa hidup yang bermakna adalah mengenai seberapa besar kasih yang dapat kita bagikan ke orang lainnya. Mungkin kita tidak selalu tahu siapa "seseorang" itu hari ini, namun Tuhan tahu karena Tuhan lah yang merancang segala alur di hidup manusia.
Mari bersama kita belajar untuk hidup bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan demi seseorang, demi kemuliaan nama Tuhan.
Amin.

Komentar
Posting Komentar