Wahyu 3:20 – “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk. Jika ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”
Semua ini bermula saat saya hendak mengikuti perkuliahan pertama sebagai mahasiswa baru. Di masa awal itu, saya merasa jauh dari Tuhan. Saya lebih fokus memikirkan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru, mencari teman, dan menyesuaikan diri dengan dunia perkuliahan. Ketika teman mengajak saya untuk beribadah atau mengikuti Jam Doa (JADO), sering kali saya menolak dengan berbagai alasan. Hati saya seperti tertutup, dan saya merasa biasa saja tanpa persekutuan.
Namun firman Tuhan dalam Wahyu 3:20 mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mengetuk pintu hati kita. Walaupun kita sering mengabaikan-Nya, Tuhan tetap setia. Ia tidak memaksa, tetapi dengan kasih Ia terus memanggil. Seperti gembala yang mencari domba yang hilang, Tuhan juga mencari setiap kita yang mungkin sedang tersesat oleh kesibukan dan kelelahan.
Di tengah kehidupan kampus yang penuh tantangan, panggilan Tuhan sering hadir lewat hal-hal sederhana: ajakan teman untuk ikut ibadah, teguran firman saat renungan, atau rasa rindu yang tiba-tiba muncul untuk kembali berdoa. Itu adalah ketukan Tuhan di pintu hati kita. Pertanyaannya, apakah kita peka untuk mendengar dan mau membuka pintu?
Pada akhirnya saya secara pribadi belajar untuk mulai peka dan menerima panggilan Tuhan. Saya mulai kembali bersekutu, ikut Jam Doa, dan belajar melayani walaupun belum sempurna. Saya sadar bahwa Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna baru datang kepada-Nya. Justru dalam kelemahan kita, Ia bekerja dan membentuk kita.
Tuhan selalu baik, dan Ia tidak pernah menyerah memanggil anak-anak-Nya.

Komentar
Posting Komentar