Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan penyertaan-Nya, sehingga Jam Doa minggu ini tetap dapat terlaksana meskipun bertepatan dengan hari libur raya. Jam Doa diadakan secara online, dipimpin oleh saudari Alni Oktavi (Ak'23) sebagai pelayan firman. Tema ini diambil dari bacaan Kolose 3:23 dengan tema "lakukan yang benar bukan yang disukai".
Seringkali dalam hidup, pekerjaan, atau pelayanan, kita cenderung memilih untuk melakukan apa yang kita "sukai" atau apa yang "mudah", daripada apa yang "benar". Kita bekerja keras hanya saat bos ada, atau bersikap baik hanya kepada orang yang menguntungkan kita. Kolose 3:23 datang sebagai teguran sekaligus motivasi untuk mengubah perspektif kita: bahwa hidup ini bukan tentang pencarian kesenangan diri, melainkan tentang kesetiaan kepada Tuhan.
1. Motivasi Tertinggi: Untuk Tuhan, Bukan Manusia
Ayat ini menegaskan, "perbuatlah... seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."
Melakukan yang disukai seringkali berpusat pada diri sendiri (ego) atau pujian manusia.
Melakukan yang benar berpusat pada Tuhan.
Saat kita sadar bahwa Tuhan adalah "bos" tertinggi kita—yang melihat tindakan kita bahkan saat tidak ada orang lain yang melihat—motivasi kita akan berubah. Kita tidak lagi bekerja sekadar untuk mendapat apresiasi, melainkan untuk menyenangkan hati Tuhan.
2. Segenap Hati dalam Kebenaran
"Perbuatlah dengan segenap hatimu." Ini berarti melakukan yang benar—walaupun itu sulit, membosankan, atau tidak populer—dengan antusiasme dan integritas tertinggi. Melakukan yang benar seringkali tidak disukai oleh daging kita. Mungkin itu berarti jujur saat yang lain curang, sabar saat ingin marah, atau tetap bekerja keras saat ingin santai.
3. Upah yang Kekal
Mengapa kita harus melakukan yang benar? Ayat selanjutnya (Kolose 3:24) menjelaskan bahwa kita akan menerima upah dari Tuhan. Manusia mungkin tidak menghargai kebenaran yang kita lakukan, bahkan mungkin menghinanya. Namun, Tuhan menghargai setiap dedikasi. Melakukan yang benar adalah persembahan yang hidup.
Aplikasi
- Di Tempat Kerja: Jangan bekerja setengah hati (bersungut-sungut) saat tugas terasa berat. Kerjakan dengan "segenap hati" seolah-olah Tuhan yang meminta tugas tersebut.
- Dalam Relasi: Jadilah jujur dan kasih, bukan karena ingin dipuji, tetapi karena itu yang benar di mata Tuhan.
- Dalam Pelayanan: Layani bukan untuk dilihat orang, melainkan sebagai bentuk penyembahan.
kita melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, baik itu pekerjaan, pelayanan, studi, hidup berkeluarga, ibadah dan sebagainya. Bukan dengan keluh kesah, gerutu atau persungutan. Biasanya di tempat kerja ada banyak hal yang kita keluhkan, mulai gaji, job description yang tidak jelas, atasan yang bertindak semena-mena dan sebagainya. Akibatnya kita pun mengerjakan setiap tugas atau pekerjaan kita tidak dengan sepenuh hati. Begitu juga dalam hal pelayanan, kita pun melakukannya sebagai hal yang rutin, biasa-biasa saja tanpa semangat. Sesungguhnya Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagi umat-Nya bagaimana Ia melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati. Apa pun yang menjadi kehendak Bapa dikerjakan-Nya dengan sepenuh hati meski harus melewati penderitaann yang hebat, bahkan sampai harus mati di kayu salib.
Yang dinilai Tuhan bukanlah aktivitas yang terlihat tetapi Ia melihat hati kita; kesepenuh hatian kita ketika melayani Dia, itulah yang dikenan Tuhan. Ada upah yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang melayani Tuhan dengan sepenuh hati.


Komentar
Posting Komentar