Langsung ke konten utama

ARTIKEL BULAN MEI

  



Nama : Asri Rindi
Jurusan/Angkatan: Akuntansi 25


“MENCARI RUMAH”


Rumah. Kata yang sangat familiar bagi kita. Kata yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang begitu dalam. Sebuah kata yang terdengar biasa, namun menyimpan kehangatan, kerinduan, dan harapan bagi banyak orang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah diartikan sebagai bangunan tempat tinggal. Sebuah bangunan yang didirikan sebagai tempat beristirahat dari lelahnya hiruk-pikuk dunia. Sebuah hunian yang dirancang senyaman mungkin bagi penghuninya. Ruang-ruang di dalamnya dibagi oleh sekat-sekat pembatas yang menjadi saksi bisu berbagai cerita; tawa yang pecah di ruang keluarga, percakapan hangat di meja makan, hingga pelukan yang menenangkan setelah hari yang panjang.

Namun, apakah rumah berhenti pada makna sebuah bangunan?
Tentu tidak.

Rumah bukan sekadar tembok, atap, jendela, atau alamat yang tertulis pada kartu identitas. Rumah adalah tempat di mana seseorang merasa aman. Tempat di mana ia dapat menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut. Tempat di mana ia diterima apa adanya, dengan segala kekurangan dan luka yang dimilikinya. Rumah adalah tempat yang selalu ingin kita tuju ketika dunia terasa terlalu bising dan melelahkan.

Rumah adalah tempat untuk pulang. Bukan hanya pulang secara fisik, tetapi juga pulang secara emosional. Pulang kepada orang-orang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, memahami tanpa banyak bertanya, dan menerima tanpa syarat. Karena pada akhirnya, setiap manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk tinggal, tetapi juga tempat untuk merasa dimiliki dan dicintai.

Sayangnya, tidak semua orang menemukan rasa aman itu di tempat yang mereka sebut rumah.

Mungkin aku adalah satu dari sekian orang yang tidak beruntung. Aku tumbuh di tempat yang seharusnya menjadi ruang perlindungan, tetapi justru menjadi sumber ketakutan. Tempat yang semestinya memberikan rasa nyaman malah meninggalkan luka dan trauma yang sulit hilang. Di balik dinding-dinding yang tampak kokoh itu, ada air mata yang jatuh dalam diam, ada ketakutan yang disembunyikan rapat-rapat, dan ada seorang anak yang setiap hari berusaha bertahan. 

Aku pernah berpikir bahwa rumah hanyalah sebuah bangunan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa rumah adalah tentang kehadiran. Tentang siapa yang menyambut kita ketika kita pulang. Tentang siapa yang tetap menerima kita ketika kita sedang lemah, terluka, dan tidak baik-baik saja.

Aku mencari rumah itu dalam banyak hal. Aku berharap menemukannya dalam diri orang lain, dalam hubungan, dalam pencapaian, bahkan dalam usahaku untuk terlihat kuat.

Namun semakin aku mencari, semakin aku menyadari bahwa tidak ada satu pun yang mampu mengisi kekosongan itu sepenuhnya.

Perjalanan itu membawaku pada satu pengertian sederhana: terkadang rumah bukanlah tempat kita tinggal, melainkan tempat kita diterima sepenuhnya.

Dan kini, aku merasa telah menemukan rumah itu.
Rumah itu ada dalam Kristus Yesus.

Di dalam Dia, aku menemukan kedamaian yang selama ini kurindukan. Ketika dunia terasa terlalu berat, Dia menjadi tempatku bersandar. Ketika aku merasa tidak berharga, Dia mengingatkanku bahwa aku berharga di mata-Nya. Ketika ketakutan datang menghampiri, Dia mengajarkanku bahwa aku tidak berjalan sendirian.

Kristus menjadi rumah yang selalu terbuka bagiku. Rumah yang tidak pernah menolakku karena masa laluku. Rumah yang tidak memandangku berdasarkan luka-lukaku. Rumah yang tetap menyambutku, bahkan ketika aku datang dalam keadaan paling rapuh sekalipun.

Di dalam-Nya aku belajar bahwa rumah bukanlah tempat yang bebas dari masalah, melainkan tempat di mana kita menemukan ketenangan di tengah masalah. Rumah bukanlah tempat di mana air mata tidak pernah jatuh, melainkan tempat di mana setiap air mata dihargai dan dipahami. Rumah bukanlah tempat yang sempurna, melainkan tempat di mana kasih tetap tinggal.

Perjalanan hidupku memang belum sepenuhnya selesai. Luka-luka masa lalu mungkin tidak langsung hilang begitu saja, ketakutan itu kadang masih datang. Namun kini aku tidak lagi berjalan sendirian. Aku tahu ke mana harus pulang.

Dan ketika seseorang bertanya kepadaku tentang arti rumah, mungkin jawabanku sederhana: Rumah adalah tempat di mana aku menemukan kedamaian.
Dan bagiku, rumah itu adalah Yesus Kristus

Matius 11:28 TB2
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membangun dan Menguatkan

Membangun dan Menguatkan “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25) Dalam menjalani kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa masalah bisa saja datang silih berganti. Masalah-masalah yang datang terkadang mampu kita hadapi seorang diri tetapi ada kalanya masalah itu terlalu berat dan kita membutuhkan topangan dari orang lain. Tuhan Yesus sendiri memang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan bukan makhluk individualis. Dalam Kejadian 2:18 berkata “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Firman ini memiliki arti bahwa manusia memang diciptakan memiliki keterkaitan  dengan sesamanya. Kita sebagai manusia meman...

Renungan Bulan Desember

Firman Tuhan Adalah Benih Yang Menghidupkan ( Mzm. 1:1-3 ; Luk. 8:11-15) Mazm. 1:1-3    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Firman Tuhan adalah makanan rohani orang percaya untuk bertumbuh akan pengenalan kepada Yesus dan kebenaran-Nya. Namun dewasa ini, banyak orang Kristen yang enggan membaca Alkitab dengan berbagai alasan. Padahal, jika kita membaca dalam Mzm. 1:1-3, seharusnya kita senantiasa membaca bahkan merenungkan Firman Tuhan agar kita menjadi orang yang diberkati di dalam Dia. Menjadi orang yang diberkati bukan menjadi tujuan hidup orang yang hidup di dalam Tuhan, melainkan suatu anug...

HISTORY OF PMKO FEB-UH

                Persekutuan Mahasiswa Kristen Oikumene Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin dibentuk pada tanggal 28 Agustus 1988 dengan maksud untuk meningkatkan nilai spirit (iman Kristen) pada diri mahasiswa Kristen. Dengan suatu kesadaran bahwa melalui pelayanan, kesaksian, dan persekutuan mahasiswa, kita sedang belajar dan dibina untuk melakukan sesuatu yang bernilai demi kemuliaan namaNYA. PMKO FE-UH berstatus otonom yang secara organisatoris merupakan bagian integral dari Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. VISI DAN MISI                 Visi PMKO FE-UH adalah  dimuridkan untuk siap memuridkan . Misi PMKO FE-UH adalah sebagai berikut: 1.    Mengajak mahasiswa kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus serta memperdalam iman dan ilmu serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan s...