Puji Tuhan Jam Doa kembali dilaksanakan dengan baik di Pelataran Baruga. Pelayanan dipimpin oleh Robin Tangkelangngan (IE’24) sebagai pemimpin Jam Doa, didampingi oleh Geyraldi Mezzy Marin (MNJ’25) sebagai gitaris dan Alfin Rudyanto (MNJ’24) sebagai cajonist.
Melalui firman Tuhan dalam Kejadian 50:15-21, kita belajar tentang arti pengampunan yang sejati melalui kehidupan Yusuf. Yusuf mengalami pengkhianatan, dibenci, bahkan dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Namun ketika Tuhan memulihkan hidupnya, Yusuf memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam ayat 20 Yusuf berkata bahwa apa yang dahulu direncanakan untuk mencelakakan dirinya, Tuhan pakai untuk mendatangkan kebaikan. Yusuf tidak melupakan lukanya, tetapi ia memilih menyerahkan rasa sakit itu kepada Tuhan dan melepaskan haknya untuk membalas dendam.
Sering kali kepahitan membuat hati kita lelah dan tanpa sadar menjadi beban yang merusak diri sendiri. Kita menunggu orang lain layak untuk diampuni, padahal dahulu pun kita adalah pribadi yang menerima kasih karunia Tuhan meski tidak layak. Pengampunan bukan berarti luka itu tidak pernah ada, melainkan keputusan untuk tidak hidup dikuasai oleh luka tersebut. Ketika kita belajar mengampuni, Tuhan memulihkan hati kita, melepaskan kita dari kepahitan, dan memberikan damai sejahtera yang baru. Karena itu, jangan biarkan luka menjadi boomerang dalam hidup kita, tetapi izinkan Tuhan bekerja memulihkan melalui pengampunan.

Komentar
Posting Komentar