Langsung ke konten utama

REVIEW JAM DOA

Kamis, 04 Juni 2026

Tema: Iman

Puji Tuhan Jam Doa hari ini kembali dilaksanakan dengan baik di Pelataran Baruga. Pelayanan dipimpin oleh Giovanni Euginio Keishac Ongan (AK'23) sebagai pemimpin Jam Doa, Topan Tangke Tasik Andilolo (Ak’22) sebagai Cajonist dan Robin Tangkelangngan (IE’25) sebagai Gitaris.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup bukan berdasarkan apa yang kita lihat, melainkan berdasarkan iman. Sesuai dengan 2 Korintus 5:7, iman bukan tentang mengetahui kepastian masa depan, melainkan tentang mempercayai bahwa Tuhan memegang kendali atas hidup kita. Seperti Musa yang membelah Laut Merah dan Daud yang mengalahkan Goliat, keduanya tidak mengandalkan kemampuan atau penglihatan mereka sendiri, melainkan percaya penuh kepada Tuhan. Matius 17:20 pun menegaskan bahwa iman sekecil biji sesawi pun mampu memindahkan gunung, artinya tidak ada iman yang terlalu kecil atau terlalu mustahil di hadapan Tuhan.

Namun, ada perbedaan penting antara iman yang besar dan iman yang benar. Iman yang besar mendorong kita untuk mempercayai hal-hal yang tampaknya mustahil, tetapi iman yang benar adalah ketika kita tetap percaya kepada Tuhan meskipun apa yang kita imani tidak terwujud sesuai harapan kita. Hal ini nyata dalam kesaksian pembicara yang tetap teguh beriman kepada Tuhan meskipun harus kehilangan ayahnya. Di balik doa dan iman yang tidak terjawab sesuai keinginan, Tuhan seringkali memiliki rencana yang jauh lebih besar dan lebih baik. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk tidak kehilangan pengharapan, sebab suatu hari nanti kita akan memahami bahwa setiap proses yang kita jalani adalah bagian dari jawaban Tuhan atas iman kita.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Desember

Firman Tuhan Adalah Benih Yang Menghidupkan ( Mzm. 1:1-3 ; Luk. 8:11-15) Mazm. 1:1-3    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Firman Tuhan adalah makanan rohani orang percaya untuk bertumbuh akan pengenalan kepada Yesus dan kebenaran-Nya. Namun dewasa ini, banyak orang Kristen yang enggan membaca Alkitab dengan berbagai alasan. Padahal, jika kita membaca dalam Mzm. 1:1-3, seharusnya kita senantiasa membaca bahkan merenungkan Firman Tuhan agar kita menjadi orang yang diberkati di dalam Dia. Menjadi orang yang diberkati bukan menjadi tujuan hidup orang yang hidup di dalam Tuhan, melainkan suatu anug...

Membangun dan Menguatkan

Membangun dan Menguatkan “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25) Dalam menjalani kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa masalah bisa saja datang silih berganti. Masalah-masalah yang datang terkadang mampu kita hadapi seorang diri tetapi ada kalanya masalah itu terlalu berat dan kita membutuhkan topangan dari orang lain. Tuhan Yesus sendiri memang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan bukan makhluk individualis. Dalam Kejadian 2:18 berkata “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Firman ini memiliki arti bahwa manusia memang diciptakan memiliki keterkaitan  dengan sesamanya. Kita sebagai manusia meman...

RENUNGAN BULAN MEI

TERJEBAK BERSAMA Heskel Kurnia (Akuntansi 2023) Shalom, Kasih Karunia Allah memberkati kita semua. Sebelumnya penulis menyampaikan ungkapan terima kasih kepada rekan-rekan pengurus yang telah menyediakan wadah yang inklusif untuk penulis membuat renungan ini dengan harapan agar pembaca dapat menyadari pentingnya “kerugian” dalam hidup seseorang melalui sebuah lagu yang menjadi favorit penulis hingga kemudian menjadi judul renungan bulan ini. Lagu “Terjebak Bersama” dari The Rain merupakan refleksi mendalam tentang hubungan yang telah teruji oleh waktu. Dirilis pada Desember 2021 sebagai bagian dari perjalanan musik mereka, lagu ini menyajikan narasi tentang dinamika hubungan yang penuh suka dan duka, namun tetap bertahan karena adanya rasa syukur dan penerimaan. Dalam lagu ini, The Rain mengajak pendengar untuk melihat kata “terjebak” dari sudut pandang yang berbeda. Biasanya, “terjebak” memiliki konotasi yang negatif, namun melalui lirik seperti: “Mereka bilang kita  terjebak bers...