“APAKAH IMAN KITA ASLI ATAU HANYA WARISAN ORANG TUA?”
Hari/Tanggal: Jumat, 29 Mei 2026
Waktu: 18.00 WITA
Tempat Pelaksanaan: Sekretariat Perkantas Makassar
Pendalaman Alkitab kali ini mengangkat tema “Apakah Iman Kita Asli atau Hanya Warisan Orang Tua?”. Tema ini lahir dari sebuah pertanyaan yang sering kali tidak disadari namun sangat penting untuk direnungkan. Banyak orang lahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristen, terbiasa beribadah sejak kecil, mengikuti sekolah minggu, persekutuan, bahkan aktif dalam berbagai pelayanan gerejawi. Namun, di tengah semua aktivitas tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah iman yang dimiliki saat ini benar-benar merupakan hasil hubungan pribadi dengan Tuhan, atau hanya sekadar mengikuti apa yang telah diwariskan oleh keluarga?
Melalui 2 Timotius 1:5, terlihat bahwa Timotius bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang mengenal Tuhan. Iman Lois dan Eunike menjadi dasar yang baik bagi pertumbuhan rohani Timotius. Namun, Paulus tidak hanya melihat iman yang ada pada nenek dan ibunya, melainkan juga iman yang hidup di dalam diri Timotius sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa iman dapat diperkenalkan melalui keluarga, tetapi pada akhirnya setiap orang harus memiliki pengalaman iman yang pribadi dan nyata dengan Tuhan.
Dalam kehidupan kekristenan, ada perbedaan antara mengenal Tuhan karena diajarkan dan mengenal Tuhan karena mengalami-Nya secara pribadi. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang Tuhan, hafal cerita-cerita Alkitab, memahami ajaran gereja, dan aktif mengikuti kegiatan rohani, tetapi belum tentu memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan tidak selalu berarti pengenalan yang sejati kepada Tuhan. Karena itu, penting untuk terus bertanya apakah iman yang dimiliki hanya sebatas tradisi atau telah menjadi keyakinan pribadi yang mengubah kehidupan.
Yohanes 3:3 mengingatkan bahwa setiap orang perlu mengalami kelahiran baru. Menjadi Kristen bukan sekadar identitas yang diperoleh sejak lahir atau karena berasal dari keluarga Kristen. Kekristenan adalah kehidupan yang diperbarui oleh Tuhan dan ditandai dengan hubungan yang hidup bersama Kristus. Tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan karena iman orang tuanya. Setiap orang harus mengambil keputusan sendiri untuk percaya dan mengikut Tuhan.
Yesus juga memberikan peringatan dalam Matius 7:21 bahwa tidak semua orang yang berseru, “Tuhan, Tuhan,” akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ayat ini menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan tidak selalu mencerminkan hubungan yang benar dengan Tuhan. Seseorang dapat terlihat rohani di hadapan manusia, tetapi sebenarnya jauh dari Tuhan. Karena itu, yang terpenting bukanlah seberapa lama seseorang berada di gereja, melainkan apakah ia sungguh mengenal dan menaati Tuhan dalam kehidupannya.
Iman yang sejati tidak berhenti pada warisan keluarga, tetapi terus bertumbuh melalui firman Tuhan. Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Semakin seseorang mengenal firman Tuhan, semakin ia mengenal hati Tuhan dan semakin kuat imannya. Iman yang hidup akan terlihat melalui perubahan karakter, ketaatan kepada Tuhan, serta kerinduan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Pada akhirnya, tema ini mengajak setiap orang untuk memeriksa dirinya dengan jujur. Apakah selama ini kehidupan rohani hanya dibangun di atas kebiasaan yang diwariskan sejak kecil, atau sudah menjadi iman yang lahir dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan? Orang tua dapat membawa anak kepada gereja, mengajarkan firman Tuhan, dan memberikan teladan iman, tetapi keputusan untuk percaya dan mengikut Kristus harus diambil secara pribadi. Iman yang sejati bukanlah iman yang dipinjam dari orang lain, melainkan iman yang lahir dari hubungan yang hidup dengan Tuhan dan terus bertumbuh setiap hari.

Komentar
Posting Komentar