Sampai Kapan Kita Melihat Kehidupan Orang Lain?
Albar Ramzani (Ilmu Ekonomi 2024)
Pernah tidak kita merasa hidup orang lain kelihatannya jauh lebih mudah daripada hidup kita? Melihat teman yang sudah mencapai sesuatu, punya banyak waktu untuk melakukan hal yang mereka suka, atau sudah lebih dulu mendapatkan apa yang kita inginkan, terkadang membuat kita bertanya, “Kapan saya bisa seperti mereka?" Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Padahal, yang kita lihat dari seseorang biasanya hanya bagian luarnya. Kita tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap yang mereka jalani.
Saya sendiri sering merasakan hal seperti itu, apalagi ketika harus menjalani kuliah sambil bekerja. Ada kalanya saya merasa capek dan mengeluh karena harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, tugas, dan urusan lainnya. Ketika melihat teman-teman yang bisa lebih fokus pada kuliah atau punya waktu lebih banyak untuk beristirahat, terkadang muncul pikiran, “Enak juga kalau saya bisa seperti mereka.” Di saat seperti itu, saya sering lupa bahwa setiap orang memang punya tanggung jawab dan perjuangannya masing-masing.
Dari pengalaman itu, saya mulai menyadari bahwa kalau terus melihat kehidupan orang lain, rasanya tidak akan pernah ada habisnya. Ibarat kita sedang mendaki sebuah bukit, ketika melihat orang yang berada lebih tinggi, kita merasa tertinggal. Setelah berhasil sampai di tempat itu, ternyata masih ada orang lain yang berada lebih tinggi lagi. Kita terus melihat ke atas dan terus merasa kurang, sampai lupa melihat ke belakang bahwa ternyata kita sudah mendaki cukup jauh. Begitu juga dengan kehidupan. Kalau terus membandingkan diri dengan orang lain, kita akan selalu menemukan seseorang yang menurut kita lebih hebat.
Di kampus pun hal yang sama bisa terjadi. Kita melihat teman yang nilainya lebih tinggi, lebih aktif organisasi, punya banyak prestasi, atau sudah lebih jelas menentukan masa depannya. Sementara kita mungkin masih sibuk membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, menyelesaikan tugas, atau sekadar berusaha agar semuanya tetap berjalan. Bukan berarti kita tidak mampu seperti mereka. Hanya saja, keadaan dan jalan yang kita jalani memang berbeda. Ada orang yang bisa berlari karena jalannya lebih lapang, sementara ada yang harus berjalan pelan karena membawa lebih banyak beban.
Kadang kita juga terlalu keras kepada diri sendiri. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kita langsung menganggap diri kita gagal. Padahal, ada banyak hal yang sebenarnya sudah kita lewati. Bisa bangun dan tetap menjalani aktivitas ketika sedang lelah, tetap masuk kuliah,bisa bekerja, menyelesaikan tugas meskipun waktunya terbatas, atau tetap mencoba ketika rasanya ingin menyerah. Hal-hal seperti itu mungkin terlihat kecil bagi orang lain, tetapi bagi diri kita sendiri, itu adalah bagian dari perjuangan yang tidak mudah.
Bukan berarti kita tidak boleh melihat keberhasilan orang lain. Justru, keberhasilan orang lain bisa menjadi motivasi. Yang perlu dihindari adalah ketika pencapaian mereka membuat kita membenci diri sendiri atau merasa hidup kita tidak berarti. Kita boleh belajar dari mereka, tetapi tidak harus menjalani jalan yang sama. Seperti dua orang yang menuju tempat yang sama, mereka bisa saja memilih jalan yang berbeda. Ada yang jalannya cepat dan lurus, ada yang harus berputar dan melewati banyak rintangan. Tujuannya tetap bisa sama, hanya waktunya yang berbeda.
Firman Tuhan dalam Galatia 6:4 mengingatkan, “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Bagi saya, ayat ini menjadi pengingat untuk tidak terus melihat kehidupan orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri. Tuhan tahu proses yang sedang kita jalani, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihatnya. Apa yang mungkin dianggap kecil oleh orang lain, bisa jadi merupakan perjuangan besar bagi kita.
Jadi, ketika suatu saat kita merasa tertinggal, mungkin kita hanya perlu berhenti sebentar dan melihat sejauh mana kita sudah berjalan. Tidak apa-apa kalau proses kita lebih lambat. Tidak apa-apa kalau hari ini masih harus berjuang lebih keras daripada orang lain. Saya pun masih sering mengeluh ketika lelah menjalani kuliah sambil bekerja, tetapi saya belajar untuk tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai alasan untuk menyerah pada proses sendiri. Karena pada akhirnya, kita tidak sedang berlomba dengan siapa-siapa. Kita hanya sedang berusaha menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin, sambil percaya bahwa Tuhan punya waktu dan jalan-Nya sendiri untuk setiap kita.

Komentar
Posting Komentar