Langsung ke konten utama

RENUNGAN BULAN AGUSTUS

 

"Hidup dalam Kasih"

Geraldi Pranajaya Patayang (Akuntansi 2025)

Matius 22:39 "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."


    Dalam ayat ini, Yesus mengingatkan kita bahwa kasih kepada sesama tidak terpisahkan dari kasih kepada Allah. Mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti kita memperlakukan orang lain dengan perhatian, kasih sayang, dan kepedulian yang sama seperti yang kita harapkan untuk diri kita sendiri. Mengasihi diri sendiri pasti terasa lebih mudah dibandingkan mengasihi orang lain, apalagi terhadap orang yang menyakiti dan mengecewakan kita. Namun Yesus memanggil kita untuk melihat sesama bukan sebagai beban dan ancaman, melainkan sebagai pribadi yang juga dikasihi Allah. Kasih yang sejati bukan hanya diucapkan, tetapi dinyatakan melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.


    Contohnya dalam kehidupan kampus, ketika kita bersaing dengan teman untuk mendapatkan nilai terbaik, posisi dalam organisasi, atau kesempatan tertentu. Kita bisa saja memilih antara mau  menjatuhkan orang lain agar diri kita terlihat lebih baik, atau saling memberikan dukungan dan menghargai keberhasilan. Mengasihi sesama berarti kita mampu mengejar keberhasilan tanpa harus mengorbankan atau merendahkan orang lain. Mengasihi sesama juga bisa dengan cara menjaga perkataan, tidak mudah menghakimi, serta mau mendengarkan dan memahami keadaan orang lain.


    Melalui firman Tuhan ini, mari kita melihat kembali bagaimana kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita. Apakah perkataan dan tindakan kita sudah mencerminkan kasih? Jangan sampai keinginan untuk menjadi yang terbaik membuat kita lupa untuk menghargai dan mengasihi sesama. Mari kita belajar untuk tetap mengasihi, bahkan ketika kita berada dalam persaingan, perbedaan, dan keadaan yang tidak selalu mudah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Desember

Firman Tuhan Adalah Benih Yang Menghidupkan ( Mzm. 1:1-3 ; Luk. 8:11-15) Mazm. 1:1-3    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Firman Tuhan adalah makanan rohani orang percaya untuk bertumbuh akan pengenalan kepada Yesus dan kebenaran-Nya. Namun dewasa ini, banyak orang Kristen yang enggan membaca Alkitab dengan berbagai alasan. Padahal, jika kita membaca dalam Mzm. 1:1-3, seharusnya kita senantiasa membaca bahkan merenungkan Firman Tuhan agar kita menjadi orang yang diberkati di dalam Dia. Menjadi orang yang diberkati bukan menjadi tujuan hidup orang yang hidup di dalam Tuhan, melainkan suatu anug...

Membangun dan Menguatkan

Membangun dan Menguatkan “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25) Dalam menjalani kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa masalah bisa saja datang silih berganti. Masalah-masalah yang datang terkadang mampu kita hadapi seorang diri tetapi ada kalanya masalah itu terlalu berat dan kita membutuhkan topangan dari orang lain. Tuhan Yesus sendiri memang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan bukan makhluk individualis. Dalam Kejadian 2:18 berkata “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Firman ini memiliki arti bahwa manusia memang diciptakan memiliki keterkaitan  dengan sesamanya. Kita sebagai manusia meman...

RENUNGAN BULAN MEI

TERJEBAK BERSAMA Heskel Kurnia (Akuntansi 2023) Shalom, Kasih Karunia Allah memberkati kita semua. Sebelumnya penulis menyampaikan ungkapan terima kasih kepada rekan-rekan pengurus yang telah menyediakan wadah yang inklusif untuk penulis membuat renungan ini dengan harapan agar pembaca dapat menyadari pentingnya “kerugian” dalam hidup seseorang melalui sebuah lagu yang menjadi favorit penulis hingga kemudian menjadi judul renungan bulan ini. Lagu “Terjebak Bersama” dari The Rain merupakan refleksi mendalam tentang hubungan yang telah teruji oleh waktu. Dirilis pada Desember 2021 sebagai bagian dari perjalanan musik mereka, lagu ini menyajikan narasi tentang dinamika hubungan yang penuh suka dan duka, namun tetap bertahan karena adanya rasa syukur dan penerimaan. Dalam lagu ini, The Rain mengajak pendengar untuk melihat kata “terjebak” dari sudut pandang yang berbeda. Biasanya, “terjebak” memiliki konotasi yang negatif, namun melalui lirik seperti: “Mereka bilang kita  terjebak bers...