"Satu Langkah Berserah, Ribuan Cemas Musnah"
Wahyudi Pratama (Ilmu Ekonomi 2025)
Sebagai manusia, wajar kalau kita punya harapan, cita-cita, dan gambaran tentang bagaimana hidup kita seharusnya berjalan. Saya sendiri sering membuat perencanaan yang matang untuk berbagai hal mulai dari urusan akademik, target pribadi, dan urusan-urusan yang lainnya. Namun, ada momen-momen tertentu dalam hidup yang mengajarkan saya bahwa sebagus apa pun persiapan yang dibuat, selalu ada variabel ketidakpastian yang tidak bisa kita prediksi. Saat realita tidak sejalan dengan harapan, respon pertama saya biasanya adalah panik dan berusaha makin keras untuk memaksakan keadaan.
Contoh nyata yang sering kita alami adalah ketika kita sudah mempersiapkan suatu hal dengan sangat matang, misalnya saat menghadapi ujian, suatu wawancara, atau kegiatan yang lain. Kita sudah begadang, riset sana-sini, berlatih berbicara, dan memastikan tidak ada detail yang terlewat. Namun di hari H, hal-hal di luar kendali tiba-tiba terjadi: fisik kita mendadak drop, jaringan internet mendadak terputus, atau tim yang harusnya bekerja sama justru tidak sejalan. Di momen seperti ini, usaha keras kita seolah runtuh begitu saja, dan rasa kecewa mendalam muncul karena realita sama sekali tidak cocok dengan ekspektasi yang sudah kita bangun jauh-jauh hari.
Pergumulan ini mengajarkan saya perbedaan penting antara menyerah dan berserah. Menyerah berarti berhenti berusaha dan kehilangan harapan, sedangkan berserah adalah tetap melakukan yang terbaik sambil melepaskan hasil akhirnya ke tangan Tuhan. Prinsip ini ditegaskan dalam Amsal 3:5-6 yang berbunyi "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Ayat ini mengingatkan bahwa logika manusia itu terbatas. Ketika saya belajar tidak lagi bersandar pada pemikiran sendiri dan melibatkan Tuhan dalam setiap proses, beban cemas perlahan berganti menjadi kedamaian.
Pada akhirnya, berserah penuh kepada Tuhan adalah bentuk kepercayaan paling murni. Berserah tidak mengubah situasi sulit secara instan, tetapi berserah mengubah cara pandang dan kondisi hati kita dalam menghadapi situasi tersebut. Kita menjadi lebih tenang karena tahu bahwa hidup kita tidak sedang dituntun oleh kebetulan, melainkan ditangan oleh Sang Pencipta yang tahu persis mana yang terbaik. Jadi, untuk Anda yang sedang lelah atau khawatir, lakukan bagian Anda sebaik mungkin, lalu serahkan selebihnya kepada Tuhan karena penyertaan-Nya selalu tepat pada waktunya.

Komentar
Posting Komentar