Langsung ke konten utama

ARTIKEL BULAN SEPTEMBER

 

"Satu Langkah Berserah, Ribuan Cemas Musnah"

Wahyudi Pratama (Ilmu Ekonomi 2025)


    Sebagai manusia, wajar kalau kita punya harapan, cita-cita, dan gambaran tentang bagaimana hidup kita seharusnya berjalan. Saya sendiri sering membuat perencanaan yang matang untuk berbagai hal mulai dari urusan akademik, target pribadi, dan urusan-urusan yang lainnya. Namun, ada momen-momen tertentu dalam hidup yang mengajarkan saya bahwa sebagus apa pun persiapan yang dibuat, selalu ada variabel ketidakpastian yang tidak bisa kita prediksi. Saat realita tidak sejalan dengan harapan, respon pertama saya biasanya adalah panik dan berusaha makin keras untuk memaksakan keadaan.

    Contoh nyata yang sering kita alami adalah ketika kita sudah mempersiapkan suatu hal dengan sangat matang, misalnya saat menghadapi ujian, suatu wawancara, atau kegiatan yang lain. Kita sudah begadang, riset sana-sini, berlatih berbicara, dan memastikan tidak ada detail yang terlewat. Namun di hari H, hal-hal di luar kendali tiba-tiba terjadi: fisik kita mendadak drop, jaringan internet mendadak terputus, atau tim yang harusnya bekerja sama justru tidak sejalan. Di momen seperti ini, usaha keras kita seolah runtuh begitu saja, dan rasa kecewa mendalam muncul karena realita sama sekali tidak cocok dengan ekspektasi yang sudah kita bangun jauh-jauh hari.

    Pergumulan ini mengajarkan saya perbedaan penting antara menyerah dan berserah. Menyerah berarti berhenti berusaha dan kehilangan harapan, sedangkan berserah adalah tetap melakukan yang terbaik sambil melepaskan hasil akhirnya ke tangan Tuhan. Prinsip ini ditegaskan dalam Amsal 3:5-6 yang berbunyi "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Ayat ini mengingatkan bahwa logika manusia itu terbatas. Ketika saya belajar tidak lagi bersandar pada pemikiran sendiri dan melibatkan Tuhan dalam setiap proses, beban cemas perlahan berganti menjadi kedamaian.

    Pada akhirnya, berserah penuh kepada Tuhan adalah bentuk kepercayaan paling murni. Berserah tidak mengubah situasi sulit secara instan, tetapi berserah mengubah cara pandang dan kondisi hati kita dalam menghadapi situasi tersebut. Kita menjadi lebih tenang karena tahu bahwa hidup kita tidak sedang dituntun oleh kebetulan, melainkan ditangan oleh Sang Pencipta yang tahu persis mana yang terbaik. Jadi, untuk Anda yang sedang lelah atau khawatir, lakukan bagian Anda sebaik mungkin, lalu serahkan selebihnya kepada Tuhan karena penyertaan-Nya selalu tepat pada waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Desember

Firman Tuhan Adalah Benih Yang Menghidupkan ( Mzm. 1:1-3 ; Luk. 8:11-15) Mazm. 1:1-3    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Firman Tuhan adalah makanan rohani orang percaya untuk bertumbuh akan pengenalan kepada Yesus dan kebenaran-Nya. Namun dewasa ini, banyak orang Kristen yang enggan membaca Alkitab dengan berbagai alasan. Padahal, jika kita membaca dalam Mzm. 1:1-3, seharusnya kita senantiasa membaca bahkan merenungkan Firman Tuhan agar kita menjadi orang yang diberkati di dalam Dia. Menjadi orang yang diberkati bukan menjadi tujuan hidup orang yang hidup di dalam Tuhan, melainkan suatu anug...

Membangun dan Menguatkan

Membangun dan Menguatkan “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25) Dalam menjalani kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa masalah bisa saja datang silih berganti. Masalah-masalah yang datang terkadang mampu kita hadapi seorang diri tetapi ada kalanya masalah itu terlalu berat dan kita membutuhkan topangan dari orang lain. Tuhan Yesus sendiri memang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan bukan makhluk individualis. Dalam Kejadian 2:18 berkata “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Firman ini memiliki arti bahwa manusia memang diciptakan memiliki keterkaitan  dengan sesamanya. Kita sebagai manusia meman...

RENUNGAN BULAN MEI

TERJEBAK BERSAMA Heskel Kurnia (Akuntansi 2023) Shalom, Kasih Karunia Allah memberkati kita semua. Sebelumnya penulis menyampaikan ungkapan terima kasih kepada rekan-rekan pengurus yang telah menyediakan wadah yang inklusif untuk penulis membuat renungan ini dengan harapan agar pembaca dapat menyadari pentingnya “kerugian” dalam hidup seseorang melalui sebuah lagu yang menjadi favorit penulis hingga kemudian menjadi judul renungan bulan ini. Lagu “Terjebak Bersama” dari The Rain merupakan refleksi mendalam tentang hubungan yang telah teruji oleh waktu. Dirilis pada Desember 2021 sebagai bagian dari perjalanan musik mereka, lagu ini menyajikan narasi tentang dinamika hubungan yang penuh suka dan duka, namun tetap bertahan karena adanya rasa syukur dan penerimaan. Dalam lagu ini, The Rain mengajak pendengar untuk melihat kata “terjebak” dari sudut pandang yang berbeda. Biasanya, “terjebak” memiliki konotasi yang negatif, namun melalui lirik seperti: “Mereka bilang kita  terjebak bers...