TUHAN INGIN DICINTAI OLEH UMAT-NYA
Melani Tappang (Manajemen 2024)
Matius 22:37–38"Jawab Yesus kepadanya: 'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.' Itulah hukum yang terutama dan yang pertama."
Saya tidak tahu sudah berapa kali mendengar ayat ini. Bahkan, saya rasa ayat ini sudah di luar kepala bagi sebagian besar orang.
Saya ingin bercerita mengenai pengalaman pribadi saya bersama Tuhan. Saya sering mendengar orang berkata, "Tuhan itu lebih dekat dari yang kita bayangkan," dan saya setuju dengan pernyataan tersebut.
Kisah ini bermula saat menjelang hari-hari terakhir masa magang saya. Kala itu, dua teman saya terlibat perselisihan paham. Saya berada di posisi yang sangat serba salah; saya tidak ingin menyakiti hati siapa pun, tetapi situasi seolah-olah menuntut saya untuk memilih memihak salah satu dari mereka.
Di tengah kebingungan itu, saya bahkan sempat bertanya kepada AI tentang apa yang harus saya lakukan. Namun, saya tidak merasa puas dengan jawaban yang diberikan. Tiba-tiba, muncul bisikkan di dalam hati saya yang mengajak untuk datang dan bertanya langsung kepada Tuhan.
Saya pun terdiam selama sekitar 40 menit, menunggu jawaban Tuhan. Jawaban yang saya terima tidak seperti panduan praktis dari AI. Tuhan tidak memberi petunjuk teknis seperti "kamu harus melakukan ini", "kamu harus bertindak begitu", atau "katakan hal ini".
Jawaban yang bergema di hati saya justru berupa sebuah pertanyaan,"kenapa kamu tidak seperti itu kepada-Ku?". Seketika itu juga saya tersadar. Mengapa saya begitu khawatir dan takut menyakiti hati teman-teman saya, tetapi tidak begitu kepada Tuhan? Selama ini, setiap kali saya berbuat dosa baik yang saya sadari maupun tidak saya jarang merenungkan apakah perbuatan tersebut menyakiti hati-Nya. Padahal, Dia yang Mahakuasa dan Mahakudus rela dipermulakan oleh ciptaan-Nya sendiri. Dia rela menjadi korban tebusan dan menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Semua itu Dia lakukan karena Dia begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita terpisah dari-Nya.
Tuhan kemudian memberi saya petunjuk tentang bagaimana saya mengasihi Dia melalui firman-Nya: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."
Yohanes 14:15
Tentu menaati perintah-Nya tidaklah mudah, sebab keinginan daging kita bertentangan dengan keinginan roh. Namun, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Tuhan Yesus sendiri telah memberi teladan nyata bahwa kasih memerlukan pengorbanan.
Harapan saya, kita semua sebagai umat-Nya dapat mengasihi Dia sebagaimana Dia telah lebih dahulu mengasihi kita. Sebagai manusia, kita masih jatuh ke dalam dosa, dan Tuhan pun memahami kelemahan kita. Namun, hal itu jangan pernah dijadikan alasan untuk menyerah dalam mentaati-Nya. Sebab "tujuh kali orang benar jatuh, ia akan bangun kembali". Kasih dan ampunan Tuhan jauh lebih besar daripada dosa manusia. Mari kita terus datang dan mendekatkan diri kepada-Nya, karena Dia selalu setia menunggu kita.

Komentar
Posting Komentar