Rabu, 30 September 2026
Tema: Kesetiaan dalam Perkara Kecil
Matius 25:14-30
Dalam Matius 25:14–30, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang hendak bepergian. Sebelum pergi, ia memanggil tiga orang hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Hamba pertama diberi lima talenta. Ia menggunakan talenta tersebut untuk berusaha dan berhasil memperoleh lima talenta lagi, sehingga ketika tuannya kembali, ia menyerahkan sepuluh talenta. Hamba kedua diberi dua talenta, dan ia juga mengusahakannya sehingga memperoleh dua talenta lagi dan mengembalikan empat talenta kepada tuannya.Karena itu, tuannya memuji mereka sebagai hamba yang baik dan setia. Sementara itu, hamba ketiga hanya menerima satu talenta. Namun, ia tidak mengusahakannya, melainkan menggali lubang di tanah dan menyembunyikan talenta tersebut. Dari perumpamaan ini, kita dapat melihat bahwa Tuhan tidak hanya melihat seberapa banyak yang kita miliki atau kerjakan, tetapi juga bagaimana kita menggunakan dan menjalankan apa yang telah dipercayakan kepada kita.
Dalam kehidupan pelayanan di gereja, terkadang kita merasa bahwa tugas yang kita lakukan terlalu sederhana dibandingkan dengan pelayanan orang lain. Ada yang mendapat tanggung jawab lebih besar, lebih banyak terlibat, atau lebih sering terlihat oleh orang lain. Tanpa disadari, kita bisa mulai membandingkan diri dan merasa bahwa apa yang kita lakukan tidak terlalu berarti. Padahal, Tuhan melihat setiap perkara yang kita kerjakan. Mungkin pelayanan yang kita lakukan hari ini sederhana dan hanya sedikit orang yang melihatnya, tetapi Tuhan melihat hati dan kesungguhan kita. Karena itu, kita tidak perlu iri dengan tugas yang dipercayakan kepada orang lain. Setiap orang memiliki bagian masing-masing, dan Tuhan melihat bagaimana kita menjalankan bagian tersebut dengan setia.
Seperti yang dikatakan dalam Matius 25:21, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa kesetiaan tidak dimulai dari perkara yang besar, melainkan dari perkara kecil yang ada di hadapan kita saat ini. Apa yang kita lakukan mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang benar untuk Tuhan, hal tersebut tetap berharga di hadapan-Nya.
Karena itu, mari belajar untuk setia dalam setiap hal yang Tuhan percayakan kepada kita. Jangan menunggu mendapatkan tanggung jawab yang besar untuk menunjukkan kesetiaan. Kerjakan terlebih dahulu apa yang ada di tangan kita saat ini dengan sebaik-baiknya. Sebab ketika kita belajar setia dalam perkara kecil, Tuhan dapat mempercayakan kepada kita perkara yang lebih besar pada waktu-Nya.
Sampai bertemu dalam Jam Doa PMKO FEB-UH selanjutnya! 🤍

Komentar
Posting Komentar