Langsung ke konten utama

ARTIKEL BULAN OKTOBER

 

FOMO dan Rasa Tidak Cukup: Belajar Bersyukur di Tengah Budaya Perbandingan

Fitri (Manajemen 2024)

      Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya, kita dapat melihat pencapaian, kebahagiaan, dan pengalaman orang lain. Namun, tanpa disadari, kebiasaan melihat kehidupan orang lain dapat membuat kita mulai membandingkan diri sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau pencapaian orang lain.

      Dalam kehidupan mahasiswa, FOMO dapat muncul ketika melihat teman memperoleh prestasi, aktif dalam organisasi, memiliki banyak teman, atau mencapai sesuatu yang belum kita miliki. Kita kemudian merasa tertinggal dan menganggap kehidupan kita kurang baik dibandingkan kehidupan mereka. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Kita sering melihat kebahagiaan dan keberhasilan orang lain tanpa mengetahui pergumulan yang mungkin sedang mereka hadapi.

      Sebagai orang Kristen, keadaan ini menjadi pengingat bagi kita untuk kembali memahami arti bersyukur. Dalam 1 Tesalonika 5:18, kita diajak untuk mengucap syukur dalam segala hal. Bersyukur bukan berarti kita harus selalu merasa bahagia atau berhenti berusaha mencapai cita-cita. Sebaliknya, bersyukur berarti belajar menghargai apa yang telah kita miliki, sembari tetap berusaha memperbaiki diri dan menjalani tanggung jawab dengan baik.

    Selain itu, Filipi 4:11–13 mengajarkan pentingnya belajar mencukupkan diri dalam berbagai keadaan. Ayat ini mengingatkan bahwa rasa cukup tidak selalu bergantung pada seberapa banyak yang kita miliki atau seberapa tinggi pencapaian kita. Nilai diri kita tidak ditentukan oleh popularitas, prestasi akademik, penampilan, ataupun pengakuan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan dan proses yang berbeda, sehingga kita tidak perlu memaksakan diri untuk selalu menyamai kehidupan orang lain.

     Untuk menghadapi FOMO, kita dapat mulai menggunakan media sosial dengan lebih bijaksana, menghargai proses diri sendiri, serta belajar bersukacita atas keberhasilan orang lain. Ketika melihat teman memperoleh kesempatan atau pencapaian yang kita inginkan, kita dapat menjadikannya sebagai motivasi untuk bertumbuh, bukan alasan untuk merasa rendah diri. Kita juga perlu mengingat bahwa setiap orang memiliki pergumulan dan waktunya masing-masing.

     Pada akhirnya, menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak pernah merasa iri, kecewa, atau tertinggal. Namun, kita diajak untuk terus belajar mengelola perasaan tersebut dan kembali menempatkan Tuhan sebagai dasar pengharapan kita. Belajar bersyukur bukan berarti kita sudah memiliki semua yang diinginkan, melainkan mampu melihat kebaikan Tuhan di tengah hal-hal yang masih kita perjuangkan. Jangan sampai kita terlalu sibuk melihat berkat dalam kehidupan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Desember

Firman Tuhan Adalah Benih Yang Menghidupkan ( Mzm. 1:1-3 ; Luk. 8:11-15) Mazm. 1:1-3    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Firman Tuhan adalah makanan rohani orang percaya untuk bertumbuh akan pengenalan kepada Yesus dan kebenaran-Nya. Namun dewasa ini, banyak orang Kristen yang enggan membaca Alkitab dengan berbagai alasan. Padahal, jika kita membaca dalam Mzm. 1:1-3, seharusnya kita senantiasa membaca bahkan merenungkan Firman Tuhan agar kita menjadi orang yang diberkati di dalam Dia. Menjadi orang yang diberkati bukan menjadi tujuan hidup orang yang hidup di dalam Tuhan, melainkan suatu anug...

Membangun dan Menguatkan

Membangun dan Menguatkan “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25) Dalam menjalani kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa masalah bisa saja datang silih berganti. Masalah-masalah yang datang terkadang mampu kita hadapi seorang diri tetapi ada kalanya masalah itu terlalu berat dan kita membutuhkan topangan dari orang lain. Tuhan Yesus sendiri memang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan bukan makhluk individualis. Dalam Kejadian 2:18 berkata “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Firman ini memiliki arti bahwa manusia memang diciptakan memiliki keterkaitan  dengan sesamanya. Kita sebagai manusia meman...

RENUNGAN BULAN MEI

TERJEBAK BERSAMA Heskel Kurnia (Akuntansi 2023) Shalom, Kasih Karunia Allah memberkati kita semua. Sebelumnya penulis menyampaikan ungkapan terima kasih kepada rekan-rekan pengurus yang telah menyediakan wadah yang inklusif untuk penulis membuat renungan ini dengan harapan agar pembaca dapat menyadari pentingnya “kerugian” dalam hidup seseorang melalui sebuah lagu yang menjadi favorit penulis hingga kemudian menjadi judul renungan bulan ini. Lagu “Terjebak Bersama” dari The Rain merupakan refleksi mendalam tentang hubungan yang telah teruji oleh waktu. Dirilis pada Desember 2021 sebagai bagian dari perjalanan musik mereka, lagu ini menyajikan narasi tentang dinamika hubungan yang penuh suka dan duka, namun tetap bertahan karena adanya rasa syukur dan penerimaan. Dalam lagu ini, The Rain mengajak pendengar untuk melihat kata “terjebak” dari sudut pandang yang berbeda. Biasanya, “terjebak” memiliki konotasi yang negatif, namun melalui lirik seperti: “Mereka bilang kita  terjebak bers...