FOMO dan Rasa Tidak Cukup: Belajar Bersyukur di Tengah Budaya Perbandingan
Fitri (Manajemen 2024)
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya, kita dapat melihat pencapaian, kebahagiaan, dan pengalaman orang lain. Namun, tanpa disadari, kebiasaan melihat kehidupan orang lain dapat membuat kita mulai membandingkan diri sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau pencapaian orang lain.
Dalam kehidupan mahasiswa, FOMO dapat muncul ketika melihat teman memperoleh prestasi, aktif dalam organisasi, memiliki banyak teman, atau mencapai sesuatu yang belum kita miliki. Kita kemudian merasa tertinggal dan menganggap kehidupan kita kurang baik dibandingkan kehidupan mereka. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Kita sering melihat kebahagiaan dan keberhasilan orang lain tanpa mengetahui pergumulan yang mungkin sedang mereka hadapi.
Sebagai orang Kristen, keadaan ini menjadi pengingat bagi kita untuk kembali memahami arti bersyukur. Dalam 1 Tesalonika 5:18, kita diajak untuk mengucap syukur dalam segala hal. Bersyukur bukan berarti kita harus selalu merasa bahagia atau berhenti berusaha mencapai cita-cita. Sebaliknya, bersyukur berarti belajar menghargai apa yang telah kita miliki, sembari tetap berusaha memperbaiki diri dan menjalani tanggung jawab dengan baik.
Selain itu, Filipi 4:11–13 mengajarkan pentingnya belajar mencukupkan diri dalam berbagai keadaan. Ayat ini mengingatkan bahwa rasa cukup tidak selalu bergantung pada seberapa banyak yang kita miliki atau seberapa tinggi pencapaian kita. Nilai diri kita tidak ditentukan oleh popularitas, prestasi akademik, penampilan, ataupun pengakuan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan dan proses yang berbeda, sehingga kita tidak perlu memaksakan diri untuk selalu menyamai kehidupan orang lain.
Untuk menghadapi FOMO, kita dapat mulai menggunakan media sosial dengan lebih bijaksana, menghargai proses diri sendiri, serta belajar bersukacita atas keberhasilan orang lain. Ketika melihat teman memperoleh kesempatan atau pencapaian yang kita inginkan, kita dapat menjadikannya sebagai motivasi untuk bertumbuh, bukan alasan untuk merasa rendah diri. Kita juga perlu mengingat bahwa setiap orang memiliki pergumulan dan waktunya masing-masing.
Pada akhirnya, menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak pernah merasa iri, kecewa, atau tertinggal. Namun, kita diajak untuk terus belajar mengelola perasaan tersebut dan kembali menempatkan Tuhan sebagai dasar pengharapan kita. Belajar bersyukur bukan berarti kita sudah memiliki semua yang diinginkan, melainkan mampu melihat kebaikan Tuhan di tengah hal-hal yang masih kita perjuangkan. Jangan sampai kita terlalu sibuk melihat berkat dalam kehidupan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar